Suasana senja di kompleks Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan, Kudus, terasa berbeda pada Selasa, 10 Maret 2026. Hari itu bertepatan dengan 20 Ramadan 1447 H, saat segenap dewan asatidz dan karyawan pondok berkumpul di Masjid Yanbu’ul Qur’an untuk mengikuti rangkaian kegiatan bertajuk Ihya’u Layali Ramadlan 1447 H—sebuah upaya menghidupkan malam-malam Ramadan sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan pesantren.
Sejak pukul 17.00 WIB, ruang utama masjid mulai dipenuhi para ustadz dan karyawan. Mereka duduk bersisian, menunggu waktu berbuka bersama. Buka bersama ini menjadi momentum kebersamaan dan kesempatan untuk saling menyapa di tengah kesibukan rutinitas pesantren selama Ramadan.
Ketika azan magrib berkumandang, suasana seketika berubah khidmat. Hadirin membatalkan puasa dengan hidangan yang telah tersaji dan disiapkan, lalu segera beranjak untuk menunaikan salat Magrib berjamaah. Kegiatan sederhana itu menjadi pembuka rangkaian malam Ramadan yang penuh makna.
Memasuki malam hari, suasana masjid kembali dipenuhi jamaah. Pada pukul 19.15 WIB, para santri bersama seluruh dewan asatidz berkumpul untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah. Malam itu tidak hanya diisi dengan ibadah rutin Ramadan, tetapi juga rangkaian kegiatan lain: peringatan Nuzulul Qur’an, haul KH. Sya’roni Ahmadi, serta muwadda’ah atau perpisahan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan, Dr. KH. Ahmad Faiz, Lc., M.A., menyampaikan sejumlah pesan kepada para santri. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga semangat beribadah dalam suasana keharmonisan. Dalam nasihatnya, beliau menceritakan pengalaman ketika menimba ilmu di Suriah, Libya, dan Turki. Di berbagai negara itu, praktik salat Tarawih maupun salat Id memiliki perbedaan. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut tidak mengurangi kekhusyukan ibadah yang dijalankan umat Islam.
Pesan kedua berkaitan dengan kedekatan seorang Muslim dengan Al-Qur’an. Beliau mendorong para santri untuk menumbuhkan semangat mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an dalam salat, setidaknya sekali dalam seumur hidup.
Adapun pesan ketiga adalah tentang kesungguhan dalam menuntut ilmu. Para santri diingatkan agar tetap fokus belajar di pondok dan tidak terlalu sering meminta izin pulang, sehingga masa belajar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Menjelang akhir acara, para santri berbaris untuk melakukan mushafahah dengan para ustadz. Satu per satu tangan disalami, diiringi doa dan harapan. Suasana masjid malam itu terasa haru dan khidmat—sebuah penutup yang menghangatkan hati, sekaligus menandai kebersamaan sebelum para santri pulang berlibur menyambut Idul Fitri.
















