Kudus, 25/4/2026-Dalam upaya menjawab kondisi darurat literasi yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini, Perpustakaan Cakrawala MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus menggalakkan serangkaian program gerakan literasi yang bertajuk “Literaktif (Literasi Aktif) dengan mengintegrasikannya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk semua kelas di jenjang MTs. Program ini menggerakkan santri untuk aktif berliterasi secara dasar, baik membaca maupun menulis demi terwujudnya santri yang melek literasi untuk menyongsong Indonesia emas tahun 2045.
Kegiatan ini berfokus pada pembentukan karakter santri mulai jenjang MTs, baik kelas tujuh, delapan, hingga kelas sembilan. Santri dirasa tidak cukup hanya mendapatkan pengalaman belajar secara formatif di dalam kelas, namun mereka juga dibiasakan berpikir secara kritis melalui Literaktif dengan stimulus penyediaan buku-buku berkualitas di perpustakaan, baik sastra maupun non-sastra. Dengan demikian, harapannya mereka mampu membuka cakrawala pengetahuan dan siap menjawab segala tantangan zaman.
Program Literaktif ini berangkat dari kegelisahan pengelola pendidikan madrasah akan minimnya santri mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan buku-buku. Melalui perpustakanlah mereka didorong supaya dapat berinteraksi dengan berbagai macam buku yang diminati. Program yang digagas oleh Ustaz Achlis Fikri Jauhari selaku wakil kepala madrasah bidang kurikulum ini mendapatkan atensi positif dari guru mapel Bahasa Indonesia dalam melakukan pendampingan ke perpustakaan sesuai waktu yang telah diatur. Dipastikan bahwa pada progam ini berupaya memberikan kesempatan yang merata kepada santri di jenjang MTs dalam mengakses berbagai bahan bacaan berkualitas yang disediakan.
Pengaturan jadwal Literaktif di perpustakaan diintegrasikan dengan berlangsungnya jam pembelajaran intrakurikuler Bahasa Indonesia. Masing-masing guru pengampu memiliki kesempatan sepekan program Literaktif di perpustakaan sesuai waktu mengajar di kelas. Upaya ini mampu membangkitkan atmosfer literasi yang aktif bagi santri, sehingga tidak hanya berhenti pada program saja, melainkan dapat tercipta budaya produktif secara kontinu bagi santri.
Dalam program Literaktif santri tidak terbatas pada aktivitas reseptif saja, namun harus ada tindak lanjut yang secara kritis sebagai respons. Dalam persoalan ini proses berpikir kritis santri dapat diwujudkan melalui tindakan produktif berupa tulisan. Oleh seba itu, jika aktivitas Literaktif telah menjadi budaya bagi santri maka diharapkan program ini dapat menggeser indeks literasi pada PISA secara signifikan.
Selain mendorong terciptanya budaya produktif, program Literaktif diharapkan juga dapat memberikan dampak positif dalam upaya pembentukan karakter santri. Kedua hal tersebut akan menjadi bekal penting untuk menyongsong cita-cita Indonesia emas 2045. Program Literaktif dinilai memberi peluang besar untuk mewujudkan santri yang melek literasi dan berkarakter positif. Dengan demikian, program ini diharapkan berlanjut secara kontinu meskipun beriringan dengan kemungkinan adanya evaluasi.












