Di tengah padatnya jadwal menghafal Al-Qur’an, belajar di kelas, serta kehidupan disiplin pesantren, para santri MTs dan MA Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus menunjukkan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk berprestasi. Sepanjang April hingga Mei 2026, sederet capaian berhasil diraih para santri dalam bidang literasi, akademik, olahraga, hingga kemampuan berbahasa.
Di tingkat MTs, Haikal Fadly Syifa dari kelas 8C berhasil menjadi finalis Lomba Esai Pekan Literasi POLINES Semarang tingkat nasional. Muhammad Haykal Imaduddin (8F) meraih Juara III Olimpiade IPS tingkat karesidenan di SMAN 1 Kudus, sementara Andi Mutawatir (7E) memperoleh Juara III Speech Competition tingkat karesidenan.
Prestasi olahraga pun tidak kalah membanggakan. Tim panahan yang terdiri atas Raihan Adzka Darmawan (7B), M. Abdul Malik (8E), dan Dzaki Khaerul Anwar (8C) sukses meraih Juara I Panahan Beregu kategori Nasional U-15 dalam Milklife Archery Challenge Series 1 tingkat Jawa Tengah. Raihan Adzka juga kembali menorehkan prestasi dengan menjadi Juara I Panahan di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kudus.
Di cabang olahraga lain, Gavin Haziqurrahman, M. Nizam Afif Nugraha, A. Nur Fahmi, Mizan Zainal Abidin, dan Baihaqi Zulkarnain Habib berhasil membawa pulang Juara I sepak takraw POPDA Kudus. Adapun Rafif Akbar Pangrekso meraih Juara III tolak peluru, sedangkan Elqayyimi Zain Mulki menjadi Juara III lempar lembing. Dari bidang seni, Adena Pasha tampil membanggakan dengan meraih Juara I mendongeng dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten.
Prestasi serupa juga datang dari jenjang MA. Usama Ar-Rayyan menjadi Juara I atletik 400 meter POPDA Kabupaten Kudus. Tim sepak takraw MA yang diperkuat Danis Oka Setiawan, Robith Luthfi Ibrahim, Muhammad Azzamuddin Anisul Umam, dan Volend Rizqy Ardian Syah berhasil meraih Juara II tingkat kabupaten. Sementara Arrasyid Nur Arjuna membawa pulang Bronze Medal dalam Mandalika Essay Competition tingkat nasional.
Di balik sederet capaian itu, tersimpan proses panjang yang tidak ringan. M. Abdul Malik, salah satu atlet panahan, bercerita bahwa dirinya bersama dua rekannya menjalani latihan khusus di bawah bimbingan Ustadz Muhammad Afif, S.Pd. Mereka bahkan mendapat izin tidak mengikuti kegiatan belajar pagi demi fokus persiapan.
“Tantangan terbesar saya adalah menghadapi lawan-lawan yang sudah berpengalaman dan punya poin tinggi,” ujarnya. Malik mengaku telah mengenal panahan sejak kelas 5 SD sebelum akhirnya bergabung dengan ekstrakurikuler pondok.
Menurut Ustadz Muhammad Afif, keberhasilan para santri tidak datang secara instan. Pembinaan dilakukan melalui latihan rutin, evaluasi teknik, penguatan mental bertanding, hingga memastikan hafalan santri tetap terjaga. “Yang paling penting adalah disiplin dan tetap menjaga nilai-nilai akhlak pesantren,” katanya.
Sementara itu, pembimbing lomba esai dan Olimpiade IPS, Ustadz Rizal Tri Bimantoro, S.Pd., melihat budaya literasi pesantren menjadi kekuatan utama santri. Kebiasaan membaca dan menghafal membuat mereka terbiasa berpikir teliti dan sistematis. “Prestasi ini membuktikan bahwa santri tahfidz juga mampu bersaing di bidang akademik umum,” ujarnya.
Prestasi-prestasi itu menjadi penanda bahwa ruang tahfidz bukanlah batas. Dari lingkungan pesantren yang sederhana, para santri belajar menyeimbangkan hafalan, ilmu pengetahuan, dan kerja keras—hingga akhirnya mampu berdiri sejajar di berbagai panggung prestasi.




















