Suara tawa para santri bersahutan di antara hamparan tenda yang berdiri di lingkungan Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan. Di bawah langit Dzulhijjah yang cerah, ratusan siswa MTs dan MA mengikuti sebuah kegiatan yang berbeda dari rutinitas harian mereka. Bukan di ruang kelas, bukan pula di halaqah tahfidz, melainkan di alam terbuka dalam kegiatan bertajuk Kemah Tasyrik.
Kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan hari-hari Tasyrik, 11–13 Dzulhijjah, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan mengingat Allah. Bagi para santri, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk belajar dengan cara yang berbeda: menggabungkan nilai-nilai keislaman, kepanduan, dan pembentukan karakter dalam satu rangkaian kegiatan.
Pembina Pramuka, Kak Oktian, menjelaskan bahwa Kemah Tasyrik bukan sekadar kegiatan berkemah biasa. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk menghidupkan makna hari-hari Tasyrik dalam kehidupan santri.
“Jika di pondok santri sudah terbiasa dengan rutinitas hafalan dan madrasah, Kemah Tasyrik hadir sebagai laboratorium alam. Tujuannya menanamkan nilai ketauhidan melalui tadabbur alam, memperkuat rasa syukur, serta melatih kemandirian dan kesederhanaan sebagaimana esensi ibadah haji dan kurban,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai program yang dirancang untuk mengasah keterampilan sekaligus karakter. Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah Pelatihan Pemadam Kebakaran (Fire Rescue Training). Dalam kegiatan ini, santri mendapatkan simulasi penanganan kebakaran, mulai dari teori hingga praktik langsung memadamkan api. Selain itu, mereka juga mengikuti penguatan keterampilan kepanduan seperti pionering, navigasi darat, sandi, serta semaphore morse.
Bagi sebagian santri, pengalaman yang paling membekas justru datang dari kebersamaan sederhana selama kemah. M. Jehan Khadafie, siswa kelas 8E, mengaku kegiatan hiking menjadi momen yang paling berkesan baginya.
“Hiking, karena bisa bermain berbagai macam permainan bersama teman-teman satu regu,” katanya.
Namun, perkemahan tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Jehan bercerita bahwa regunya mendapatkan tenda yang relatif kecil dibanding jumlah anggota. Akibatnya, mereka harus tidur berdesakan. Bahkan ada anggota regu yang rela tidur dengan sebagian tubuh berada di luar tenda agar semua teman bisa beristirahat.
Di balik pengalaman sederhana itu, tersimpan pelajaran yang mendalam. “Kemah Tasyrik mengajarkan saya tentang kerja sama dan gotong royong. Kami juga belajar tali-menali atau pionering yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Kak Oktian, di situlah letak nilai utama Kemah Tasyrik. Jika pembelajaran di kelas menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan, maka perkemahan adalah ruang untuk menempa kepribadian dan menguji nilai-nilai yang selama ini dipelajari.
“Di kelas, santri belajar teori tentang sabar, syukur, dan gotong royong. Di perkemahan, nilai-nilai itu dipraktikkan secara nyata,” tuturnya.
Melalui Kemah Tasyrik, Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan tidak hanya membentuk santri yang kuat hafalannya, tetapi juga pribadi yang tangguh, mandiri, dan siap menebar manfaat di tengah masyarakat. Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui, melainkan juga tentang bagaimana nilai-nilai itu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.













