Kegiatan Gebyar Muharram yang diselenggarakan pada 5 Juli 2026 berlangsung dengan penuh khidmat. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas bahasa serta kapasitas keilmuan para santri ini menghadirkan ulama terkemuka asal Syam, Syekh Dr. Muhammad Syarif As-Sawaf, Rektor Mujamma’ Syekh Ahmad Kaftaro periode 2011–2024. Di hadapan para peserta dari Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, ulama yang memiliki garis keturunan mulia bersambung ke Sayyidina Hasan dari jalur ayah dan Sayyidina Husain dari jalur ibu ini menyampaikan nasihat serta pemikiran mendalam mengenai keagungan Al-Qur’an dan pembentukan karakter seorang muslim di era modern.

Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki keutamaan mutlak dibanding kitab-kitab suci terdahulu yang keasliannya sulit diverifikasi pada saat ini. Kitab suci umat Islam ini dijamin keautentikannya, di mana teks yang dibaca oleh umat Islam hari ini sama persis dengan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Selain dirancang agar mudah dihafal, Al-Qur’an memiliki kemukjizatan yang selalu relevan di setiap ruang dan waktu. Beliau mengumpamakan kemukjizatan Al-Qur’an seperti proses regenerasi kulit manusia yang mengelupas setelah terbakar, yaitu senantiasa melahirkan pemahaman, hikmah, serta solusi baru secara berkelanjutan untuk menjawab kebutuhan zaman.
Relevansi Al-Qur’an selama lebih dari 1.400 tahun di tengah perubahan dunia yang dinamis didasari oleh dua aturan hukum atau qanun utama. Pertama adalah hukum yang bersifat ta’abbudi, yakni aturan ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, dan puasa yang ketentuannya sudah pasti dan tidak dapat diubah. Kedua adalah aturan yang berbasis kaidah umum (qawa’id ‘ammah), seperti dalam urusan muamalah dan interaksi sosial. Pada kategori kedua ini, Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar, sementara aplikasi teknisnya diserahkan kepada hasil ijtihad manusia yang tetap berada dalam koridor konsensus para ulama.
Al-Qur’an juga memuat kemukjizatan akhlak (i’jaz al-akhlaqi) yang menyediakan sistematika komprehensif untuk mendidik karakter manusia, termasuk mengajarkan pentingnya memberi maaf yang memiliki nilai pahala sangat tinggi. Namun, peringatan tegas juga diberikan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an tanpa berupaya memahami dan mengamalkan isinya. Kedudukan penting para ahli Al-Qur’an dalam Islam dicontohkan melalui kisah sahabat Salim Maula Abu Hudzaifah, yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk menjadi imam shalat meskipun di antara para jamaah terdapat sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq.
Sebagai penutup nasihatnya, Syekh Dr. Muhammad Syarif As-Sawaf menggarisbawahi perbedaan kondisi antara generasi sahabat dan umat masa kini, di mana para sahabat dibekali keimanan terlebih dahulu sebelum menerima Al-Qur’an, sedangkan generasi sekarang mengenal Al-Qur’an sebelum memantapkan keimanan. Oleh karena itu, beliau berpesan khusus kepada para santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus agar terus menguatkan keimanan seiring dengan hafalan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an. Beliau mendorong seluruh santri untuk menjadi pribadi yang memiliki prinsip serta visi hidup yang jelas, senantiasa berfokus pada perbaikan kualitas diri, dan memanfaatkan momentum Gebyar Muharram ini untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa serta keilmuan demi menjawab tantangan zaman.













