Bagi Muhammad Prabu Miqdad Iskandar, Jambore Nasional XII Tahun 2026 bermula dari sebuah keraguan. Selepas salat zuhur, terdengar pengumuman tentang seleksi peserta Jambore Nasional. Ia sempat berpikir ulang. Biaya menjadi salah satu pertimbangan. Namun, ajakan seorang teman membuatnya memutuskan untuk mencoba.
Di Gedung Laboratory, Prabu bersama calon peserta lain menerima gambaran tentang materi seleksi. Pengetahuan umum kepramukaan, sandi, hingga berbagai keterampilan menjadi bekal yang harus dikuasai. Waktu persiapan yang singkat membuatnya belajar hingga larut malam.
Pada hari seleksi, 11 santri dari MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus berangkat ke Kwartir Cabang Kota Kudus. Setelah menjalani berbagai tes, termasuk fisik, sandi, dan bakat, hasil seleksi belum juga diumumkan. Prabu bahkan masih harus mengikuti rangkaian Kemah Tasyrik sebagai petugas api unggun.
Malam itu, setelah gladi dan acara selesai, para peserta kembali berkumpul untuk mendengarkan pengumuman. Nama Prabu dan Haidar Achmad Adya Surya disebut paling akhir.

“Paling sengaja biar deg-degan semua,” kenang Prabu.
Haidar memiliki cerita yang berbeda. Ketertarikannya pada pramuka justru tumbuh setelah mengikuti Gebog Scout Competition (GSC) IV pada 26 April 2026. Saat itu, tim Pramuka Penggalang MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus belum memperoleh hasil yang diharapkan. Kekalahan tersebut justru menjadi pintu masuk bagi Haidar untuk lebih mengenal dunia kepramukaan.
Ketika seleksi Jambore Nasional dibuka, ia sempat minder. Sebagian peserta dinilainya lebih berpengalaman. Ia juga merasa berbeda karena berlatar belakang santri. Namun, keraguan itu tidak membuatnya mundur. Ia berusaha optimistis hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu dari 32 peserta yang mewakili Kota Kudus.
Sejak 1 Juni, latihan rutin atau Training Center (TC) menjadi bagian dari perjalanan mereka. Tiga kali dalam sepekan, pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, para peserta berlatih memperkuat keterampilan, membangun kekompakan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan perkemahan. Mereka bahkan menjalani latihan berkemah selama dua hari di Jekulo sebagai gambaran suasana di Cibubur.
Di Jambore Nasional, ruang belajar mereka berubah. Bukan lagi sekadar sanggar atau halaman pondok, melainkan perkemahan yang mempertemukan pramuka dari berbagai penjuru Indonesia.
Prabu paling mengingat saat kontingen Jawa Tengah berkumpul dan menyanyikan yel-yel bersama. Energi kebersamaan itu membuat lelah terasa ringan. Ia juga mendapat teman dari Papua, Tulungagung, Pati, dan berbagai daerah lain. Bagi Haidar, perjumpaan dengan teman dari Papua menjadi pengalaman tersendiri karena merupakan kali pertama ia bertemu langsung dengan orang Papua.
Di tengah riuhnya kegiatan, keduanya belajar hal-hal yang sederhana tetapi penting: mengatur waktu, bekerja sama mendirikan tenda, membantu teman yang sakit, menjaga kebersihan, dan datang tepat waktu.
Pembina Pramuka, Oktian Adi Putra, S.Kom., melihat perubahan itu sejak proses Training Center. Kemampuan komunikasi keduanya meningkat. Mereka juga semakin berani menyampaikan gagasan dan, ketika menghadapi masalah, lebih mengutamakan pencarian solusi.
Lebih dari sekadar pengalaman kepramukaan, keikutsertaan Haidar dan Prabu menjadi penanda bahwa kehidupan pesantren tidak menghalangi santri untuk hadir di ruang-ruang nasional.
“Seorang santri dan siswa madrasah juga mampu berkegiatan di kancah nasional dan berbaur dengan siswa lainnya tanpa meninggalkan kewajibannya dalam menghafal Al-Qur’an,” ujar Oktian.
Kini, dari Cibubur mereka membawa pulang bukan hanya cerita tentang perkemahan. Ada kesadaran baru bahwa waktu harus dihargai, kerja sama membuat perjalanan terasa lebih ringan, dan perbedaan bukan alasan untuk menjauh.
Bagi Prabu, Jambore Nasional adalah “penuh keseruan, kegembiraan, kebersamaan, yang membuat kita tak mudah lelah”. Sementara Haidar, dengan polos menyimpulkannya: “Nggak nyangka, asyik banget.”
Dua kalimat sederhana itu mungkin cukup untuk menggambarkan sebuah perjalanan. Berangkat sebagai santri yang membawa identitas pondok, mereka pulang dengan pengalaman tentang Indonesia yang lebih luas—dan dengan keyakinan bahwa menjadi santri berarti tetap dapat melangkah jauh, selama kewajiban dan nilai yang dibawa tidak ditinggalkan.












