Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan telah melaksanakan acara yang diikuti oleh para santri. Kegiatan tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh nuansa keislaman. Acara diawali dengan pembukaan yang kemudian dilanjutkan dengan qiraah yang disampaikan oleh Ustadz Fauzul Hakim. Pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pembuka yang menambah kekhusyukan suasana sebelum memasuki acara inti.
Setelah qiraah, acara dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Nabi yang dibawakan oleh Tim Rebana. Lantunan shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad menjadi bagian yang memperkuat rasa cinta para santri kepada Rasulullah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok, Dr. KH. Ahmad Faiz, Lc., MA. Dalam mauidhohnya, beliau mengangkat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa sebagai pelajaran tentang kesalahan, taubat, dan harapan kepada Allah SWT.

Disampaikan bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa pernah melakukan kesalahan ketika memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT. Setelah melakukan kesalahan tersebut, tampaklah aurat keduanya sehingga mereka berusaha menutupinya dengan daun-daun dari surga. Nabi Adam dan Siti Hawa kemudian bertemu di Jabal Rahmah. Kisah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, kesalahan tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk menjauh dari Allah. Sebaliknya, ketika melakukan kesalahan, seorang Muslim hendaknya segera menyadari kekeliruannya, bertaubat, dan memohon ampun kepada Allah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Adam.

Dalam mauidhohnya juga ditekankan pentingnya menjadikan sunnah Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan seorang Muslim. Sunnah tidak hanya berupa perkataan Nabi, tetapi juga mencakup perbuatan dan persetujuan beliau. Di antaranya adalah Sunnah Fi’liyah, yaitu sunnah yang berupa perbuatan Nabi; Sunnah Qauliyah, yaitu sunnah yang berupa perkataan Nabi; serta Sunnah Taqririyah, yaitu sesuatu yang dilakukan oleh para sahabat kemudian dibenarkan atau tidak diingkari oleh Nabi. Oleh karena itu, kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan berusaha mengikuti sunnah, perbuatan, serta akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.


Sebagai salah satu contoh Sunnah Taqririyah, disampaikan pula kisah Abu Sa’id Al-Khudri RA yang pernah meruqyah seseorang dengan membaca Surah Al-Fatihah. Setelah orang tersebut sembuh, Abu Sa’id Al-Khudri RA mendapatkan imbalan atas ruqyah yang dilakukannya. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Rasulullah, beliau membolehkannya. Kisah ini menjadi salah satu dasar bahwa Al-Qur’an dapat digunakan sebagai bagian dari ruqyah, sekaligus menunjukkan adanya sesuatu yang dilakukan sahabat kemudian mendapatkan pembenaran dari Rasulullah. Hadis mengenai kisah tersebut diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.
Mauidhoh tersebut memberikan pesan yang sangat relevan bagi para santri, yaitu jangan pernah berputus asa ketika melakukan kesalahan. Setiap manusia dapat melakukan kekeliruan, tetapi yang terpenting adalah segera menyadari kesalahan, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri. Sebagai santri penghafal Al-Qur’an, kecintaan kepada Rasulullah hendaknya diwujudkan dengan menjaga akhlak, memperbanyak mengikuti sunnah, serta menjadikan ucapan dan perbuatan beliau sebagai teladan.
Setelah mauidhoh selesai, rangkaian acara ditutup dengan doa. Seluruh rangkaian kegiatan maulid pada 25 Agustus 2026 tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan bekal nasihat dan keteladanan bagi para santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan. (iq/p)














