KUDUS — Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti prosesi wisuda, santri kelas XII dan Khotmil Qur’an di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Menawan, pada Ahad (7/6).
Lantunan ayat suci, doa, serta pesan-pesan keilmuan menjadi bekal berharga. Utamanya bagi para santri yang menuntaskan masa belajarnya di pesantren.
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan sanad Al-Qur’an oleh empat santri, yakni Jihad Syukron Rohmat, Syafiq Hizam, Farhan Aulia Ar-Rasyid, dan Nabil Fawaaz El Wafa.
Acara dipandu dua santri, Muhammad Khoirul Faiz dan Ahmad Ulil Azmi, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Ahsin Yasroni.
Lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars PTYQ Menawan, serta prosesi khotmil Qur’an yang diikuti 45 santri.
Momentum khotmil Qur’an menjadi penanda perjalanan panjang para santri dalam menuntaskan hafalan dan pembelajaran Al-Qur’an.
Puncaknya, sebanyak 149 siswa kelas XII mengikuti prosesi wisuda sebagai tanda berakhirnya masa pendidikan mereka di PTYQ Menawan.
Mewakili wali santri, Dr. KH Nur Salim Kasmani, Lc., M.H.I., menyampaikan ungkapan syukur dan terima kasih mendalam kepada para pengasuh serta guru yang telah mendampingi para santri selama bertahun-tahun.
Beliau menuturkan, putranya, Naufal Rabbani Nur, telah menempuh pendidikan Al-Qur’an selama 12 tahun di lingkungan Yanbu’ul Qur’an, dimulai dari jenjang dasar di Krandon hingga menyelesaikan pendidikan di Menawan.
Menurutnya, para pengasuh dan guru bukan hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga menjadi orang tua. Bahkan penjaga keamanan yang membersamai para santri selama 24 jam penuh.
Atas dedikasi tersebut, para wali santri menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya.
Dalam kesempatan itu, beliau yang juga mewakili seluruh wali santri menyampaikan permohonan maaf. Atas segala kekhilafan maupun sikap orang tua selama menitipkan putra-putranya di pondok.
Kepada para wisudawan, dititipkan pesan agar tidak pernah melupakan pondok, para kiai, serta guru-guru yang telah membimbing mereka, setinggi apa pun pencapaian yang diraih di masa depan.
Prosesi wisuda juga diwarnai pemberian penghargaan kepada santri berprestasi.
Muhammad Danish Safaraz dari kelas XII IPA dinobatkan sebagai wisudawan terbaik bidang umum.
Sedangkan Said Hasan dari kelas XII Keagamaan meraih penghargaan sebagai wisudawan terbaik bidang keagamaan.
Kemudian, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH Ulin Nuha Arwani.
Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa belajar tidak boleh berhenti setelah lulus dari madrasah.
Menuntut ilmu, sambungnya, merupakan proses seumur hidup, sebagaimana tuntunan agama untuk belajar sejak lahir hingga akhir hayat.
Sementara itu, pendidikan agama maupun ilmu-ilmu umum merupakan satu hal yang mutlak. Untuk sukses di dunia dan akhirat.
Pendidikan, hemat kata, adalah investasi masa depan. Yang nilainya tak dapat ditandingi dengan hal-hal material lainnya.
Sebab, buah dari ilmu akan melahirkan akhlak. Menghaluskan hati dan jiwa. Mengarahkan kepada pribadi yang luhur. Berbakti kepada guru dan orang tua, sesuai dengan peran masing-masing.
Tak ketinggalan, beliau menjelaskan konsep haqqo tilawatih sebagai bentuk interaksi ideal dengan Al-Qur’an.
Tidak hanya membaca dengan benar melalui penguasaan tajwid dan makharijul huruf, seorang muslim juga dituntut melakukan tadabbur terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an.
Serta menanamkan hasil perenungan itu ke dalam hati, untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
KH Ulin Nuha Arwani turut mengingatkan pentingnya ta’ahud atau muraja’ah.
Menurutnya, hafalan Al-Qur’an lebih cepat lepas daripada unta yang terikat apabila tidak terus dijaga.
Para alumni diminta untuk selalu menyediakan waktu menderes Al-Qur’an, di tengah kesibukan kuliah, bekerja, maupun aktivitas lainnya.
Beliau juga mengajak para santri membiasakan qiyamul lail sebagai sarana menjaga hafalan.
Di samping itu, ia mengingatkan bahwa maksiat merupakan kegelapan yang dapat menutup hati dan menghilangkan hafalan Al-Qur’an.
Pada akhirnya, Al-Qur’an dapat menjadi pembela bagi pemiliknya yang menjaga dan mengamalkannya.
Namun juga dapat menjadi saksi yang memberatkan apabila hafalan dan ajarannya diabaikan.
Prosesi tersebut, kemudian ditutup dengan doa bersama. Mengiringi langkah para wisudawan untuk melanjutkan perjalanan hidup dengan membawa cahaya Al-Qur’an sebagai pedoman.
Nur Al-Qur’an tersebut, diharapkan dapat selalu menerangi jiwa dan langkah para santri. Dalam beriman, berislam dan berihsan.















