KUDUS — Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa sejak pagi, pada Sabtu (28/3/2026).
Utamanya saat para alumni dan keluarga besar Robithotul Huffadz Li Ma’had Yanbu’ul Qur’an Menawan, berkumpul dalam agenda Halal bi Halal 1447 H.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB itu dipandu oleh dua pembawa acara, Adya Galih dan Fadhilah Nur Said.
Rangkaian acara mengalir. Berjalan khidmat hingga selesai.
Momentum ini bukan sekadar ajang temu kangen pasca-Ramadan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk merawat ikatan batin antaralumni yang telah tersebar di berbagai daerah.
Dalam sambutannya, perwakilan alumni Ainul Hurri Jaelani menyampaikan pentingnya menjaga nilai kekeluargaan dan ukhuwah yang telah dibangun sejak masa di pondok.
“Acara ini untuk meningkatkan nilai kekeluargaan, menumbuhkan rasa cinta, serta mempererat ukhuwah antaralumni. Juga sebagai pengingat untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada para guru kita,” tuturnya.
Di tengah suasana penuh keakraban itu, mauizhah hasanah yang disampaikan oleh Dr. KH. Ahmad Faiz, Lc., M.A. menjadi inti perenungan bersama.
Beliau mengingatkan bahwa Pondok Menawan bukan sekadar tempat belajar, melainkan bagian dari cita-cita besar muassis ma’had, Simbah Kiai Arwani.
“Pondok kita adalah bagian kecil dari cita-cita istimewa Simbah Kiai Arwani. Maka di manapun kita berada, kita harus berusaha merealisasikan apa yang beliau cita-citakan,” ungkapnya.
Pesan tersebut amat menggugah kesadaran para alumni, bahwa identitas sebagai santri tidak berhenti saat keluar dari pondok.
Justru, nilai-nilai itu harus terus hidup dalam setiap langkah kehidupan, di berbagai peran dan profesi yang dijalani.
Lebih jauh, beliau juga menyinggung filosofi penamaan gedung-gedung di lingkungan Menawan yang diambil dari nama berbagai negara.
Hal tersebut, menurutnya, merupakan simbol harapan agar para santri siap berkontribusi bagi kejayaan Islam di tingkat global, sekaligus kembali membangun tanah air dengan ilmu yang dimiliki.



Dalam tausiyahnya, KH. Ahmad Faiz turut mengutip salah satu nazham dalam kitab Syathibi, yang menukilkan tentang kunci kesuksesan hidup. Beliau menekankan pentingnya meluruskan niat semata-mata karena Allah, serta memastikan tempat bersandar hanya kepada-Nya.
Keteladanan Simbah Kiai Arwani pun diangkat sebagai contoh nyata.
Di antaranya ialah cara menjaga keikhlasan saat mengajar. Dengan tidak menghadap jamaah, melainkan ke arah kiblat, demi menjaga hati agar tetap tulus dan terhindar dari riya’.
“Jika niat sudah benar dan sandaran hanya kepada Allah, maka saat berhasil kita tidak akan sombong, dan ketika gagal pun tetap bersyukur karena yakin itulah pilihan terbaik dari-Nya,” imbuhnya.
Kegiatan Halal bi Halal ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Namun menjelma sebagai ruang refleksi spiritual, sekaligus penguat komitmen bersama untuk melanjutkan perjuangan para masyayikh.
Di penghujung acara, panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh asatidz dan keluarga besar Rohmaya Menawan yang telah berpartisipasi, baik secara langsung maupun virtual.
Juga disampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan.
Harapan pun mengalir dari seluruh peserta, agar kebersamaan yang terjalin dalam Halal bi Halal ini menjadi energi baru dalam menjaga ukhuwah sebagai bagian dari keluarga besar santri Yanbu’ul Qur’an, sekaligus membawa keberkahan dalam setiap langkah kehidupan ke depan.









