Pada Jumat, 3 April 2026, civitas akademika Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan berkumpul dalam satu majelis yang sarat makna: Halalbihalal. Setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan, pertemuan ini menjadi ruang untuk saling menyapa, memaafkan, dan menata kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
Barisan para ustadz, karyawan, dan elemen pondok lainnya memenuhi ruang masjid. Tidak ada sekat di antara mereka, semua duduk menyatu dalam suasana kekeluargaan. Halalbihalal ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk mempererat silaturahim sekaligus menghidupkan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi ruh kehidupan pesantren.

Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Madrasah Qur’aniyyah, Ustadz Fathul Umam, S.H., M.Pd. Dalam kesempatan itu, ia berbagi pengalaman selama menjalankan tugas sebagai imam safari Ramadan di Masjid Al-Hikmah, Den Haag, Belanda. Salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah kedisiplinan komunitas muslim di sana dalam menunaikan salat berjamaah lima waktu. “Meski tidak ada pengeras suara yang terdengar keluar masjid, jamaah tetap hadir dengan kesadaran sendiri,” tuturnya. Kisah tersebut seolah menjadi cermin, bahwa kekuatan ibadah tidak semata terletak pada fasilitas, tetapi pada kesadaran dan komitmen pribadi.
Sambutan kedua disampaikan oleh Kepala MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, Ustadz Moch Dwi Irsyad Saputra, M.Pd. Ia mengingatkan bahwa perjalanan tahun pelajaran belum usai. Masih ada sejumlah agenda penting yang harus dituntaskan hingga akhir Tahun Pelajaran 2025/2026. Ia mengajak seluruh elemen pondok untuk bersama-sama mengawal program-program tersebut agar berjalan dengan baik dan mencapai hasil optimal.
Sementara itu, Kepala MA, Ustadz Ulin Nuha, M.Ag., dalam sambutan ketiga, mengajak seluruh hadirin untuk melakukan refleksi. Menurutnya, momentum Halalbihalal adalah saat yang tepat untuk menengok kembali perjalanan pengabdian di pondok—apa yang telah dilakukan, dan apa yang masih perlu diperbaiki. Refleksi itu diharapkan menjadi pijakan untuk melangkah lebih baik ke depan.
Rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pimpinan Pondok, Dr. Ahmad Faiz, Lc., M.A. Suasana menjadi hening, setiap orang larut dalam harapan dan permohonan kebaikan. Setelah itu, mushafahah dilakukan. Satu per satu saling bersalaman, saling memaafkan dengan tulus.
Di tengah jabat tangan yang hangat dan senyum yang mengembang, Halalbihalal itu menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi ruang penyucian hati—tempat di mana hubungan diperbaiki, dan kebersamaan kembali diteguhkan untuk melangkah bersama dalam pengabdian.
















