Suasana Masjid Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan terasa lebih hening dari biasanya. Lantunan ayat suci mengalun dalam khataman Al-Qur’an, sementara para santri menyimak dengan tenang. Di tengah majelis itu, nama Ibu Nyai Hj. Noor Ishmah kembali disebut—bukan semata untuk mengenang sosok yang telah berpulang, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nasihat dan keteladanan yang pernah ditanamkan.
Haul Ibu Nyai Hj. Noor Ishmah diikuti oleh para ustadz serta santri MTs dan MA Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan. Bagi keluarga besar pondok, haul bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus menghubungkan kembali generasi yang sedang belajar dengan nilai-nilai yang telah lebih dahulu ditanamkan.
Kepala Madrasah Qur’aniyyah, Ustadz Fatkhul Umam, S.H., M.Pd., mengatakan haul merupakan wujud khidmah, penghormatan, dan mahabbah kepada almarhumah serta para pendahulu yang telah meletakkan pondasi perjuangan di lembaga tersebut.
“Bagi para santri, haul menjadi sarana tadzkirah, pengingat bahwa keberadaan mereka dalam menuntut ilmu Al-Qur’an tidak lepas dari riyadhah, doa, dan dedikasi para sepuh,” ujarnya.
Dalam pandangan Ustadz Fatkhul Umam, keteladanan Ibu Nyai Noor Ishmah terutama tercermin dalam kesederhanaan dan keikhlasan berkhidmah, keteguhan menjaga adab dan akhlak, serta keistiqamahan dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Tradisi mendoakan para pendahulu juga menjadi bagian penting dari pendidikan batin para santri.
Pesan itu menemukan bentuknya dalam pengalaman para peserta. Andi Mutawattir, siswa kelas 8E, mengaku terkesan dengan rangkaian pengajian dan penyampaian Gus Faiz. Ia juga sempat merasakan ketegangan ketika diminta maju di hadapan jamaah.
Namun, yang lebih lama tinggal dalam ingatannya adalah pesan tentang pentingnya muraja’ah atau nderes. “Sering muraja’ah siang-malam, karena itulah nasihat yang pernah disampaikan oleh Bu Nyai Noor Ishmah,” katanya.
Kesan serupa disampaikan Arsakha Virendra Chalief, siswa kelas 8C. Baginya, salah satu bagian paling berkesan adalah kesempatan menyimak dawuh Bu Nyai Noor Ishmah melalui tayangan video, kemudian menjelaskan kembali apa yang dipahami kepada teman-temannya.
Suasana khidmat ketika khataman Al-Qur’an dan mendengarkan penjelasan Gus Faiz membuat pesan tersebut terasa semakin dekat. Arsakha mengambil satu kesadaran sederhana: menjadi penghafal Al-Qur’an berarti harus bersedia terus menjaga hafalan.
“Harus sering nderes agar hafalan tidak hilang,” ujarnya.
Pada akhirnya, haul bukan hanya tentang menengok masa lalu. Di antara ayat-ayat yang dibaca dan nasihat yang kembali didengarkan, para santri diajak memahami bahwa mengenang seorang pendahulu berarti meneruskan nilai yang pernah diperjuangkannya.
Ingatan kemudian menemukan bentuk paling nyata: hafalan yang terus dijaga, adab yang terus dipelihara, dan ilmu yang terus diamalkan. Dengan cara itulah, sebuah nama tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tetap hidup dalam perilaku generasi yang melanjutkan perjuangan.













