Laboratorium Biologi MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an kudus dipenuhi dengan suasana menyenangkan saat murid-murid melakukan praktik pembuatan sabun. Praktik yang telah terjadwal secara sistematis mulai tanggal 20-22 Juli 2026 itu, diperuntukkan kepada santri kelas delapan dalam memupuk jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, antusiasme murid benar-benar mewarnai suasana praktik yang terprogram sebagai pembelajaran kokurikuler.
Pelaksanaan praktik kokurikueler pembuatan sabun tersebut didampingi langsung oleh ustadz sesuai bidangnya. Hal itu tidak hanya semata-mata menghasilkan produk yang berkualitas, namun juga mampu memberikan makna pembelajaran mendalam, rahmatan lil’alamin dan berkesan. Ustadz Moch. Dwi Irsyad Saputra, M,Pd, selaku kepala Madrasah MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus menyampaikan bahwa pelaksanaan kokurikuler harus menjadi terobosan pembelajaran yang berkesan untuk siswa. Menurut beliau siswa akan terus mengingat momentum yang menyenangkan saat praktik berlangsung.

“Praktik kokurikuler haruslah memberikan pengalaman yang berkesan kepada siswa, sehingga menjadi momentum yang tidak dapat dilupakan santri sampai kapan pun. Santri-santri akan diajarkan agar dapat bekerja sama, menghargai waktu, dan kedisiplinan. Itulah sebetulnya esensi dari pembelajaran yang berkesan tersebut” ujar Ustadz Dwi
Selama kurun waktu tiga hari praktik, siswa mendapatkan pendampingan dari ustadz yang ditugaskan sebagai fasilitator pembelajaran kokurikuler secara bergantian. Tampak di hari pertama, Ustadz Ririh Zuliadi menjelaskann tujuan praktik serta mekanisme praktik agar tidak terjadi salah langkah yang fatal.
“Diharapkan kalian nanti dapat membuat sabun pencuci piring, baik untuk keperluan sendiri atau untuk dijual. Maka kalian harus dapat memahami prosedur yang tepat cara pembuatannya, serta bahan-bahan yang perlu disediakan” ujar Ustadz Ririh selaku penangnggung jawab praktik pembuatan sabun kepada siswa.
Ustadz Ririh tampak selalu semangat menunjukkan satu-persatu bahan dan alat yang diperlukan untuk pelaksanaan praktik. Di antara bahan-bahan yang dijelaskan melibuti sodium sulfat, texapon, pewarna, pewangi utnuk sabun, dan foam boster. Melalui bahan-bahan tersebut siswa dapat meracik menjadi sabun dengan prosebur yang tepat.
“Kalian dapat memperhatikan. Bahan-bahan ini akan kita larutkan atau campur jadi satu dengan tambahan ukuran air yang sesuai kadarnya. Pencampuran yang kurang merata dan ukuran air yang tidak sesuai, akan membuat produk sabun tidak dapat berhasil secara maksimal” tutur Ustadz Ririh saat memberikan pengarahan awal kepada siswa.
Di akhir praktik, anak-anak diminta menyampaikan produk yang telah dibuatnya secara berkelompok. Hal itu bertujuan agar mereka betul-betul memahami substansi praktik pembuatan sabun cuci piring yang dilakukan secara bersama dengan kelompoknya. Di samping itu, memberikan kesempatan kepada anak agar berlatih memromosikan produk agar mendatangkan pembeli.













