
MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus telah ditetapkan sebagai sekolah adiwiyata provinsi pada 2 Juli 2025 lalu berdasarkan SK Gubernur Jawa Tengah. Capaian ini merupakan bagaian dari serangkaian proses panjang yang tentu menguras tenaga, pikiran, bahkan biaya. Pada jenjang MTs, proses pengajuan calon sekolah adiwiyata tidak dapat serta-merta ke tingkat provinsi, melainkan harus melewati tingkat kabupaten terlebih dahulu. Oleh sebab itu, pada tahun sebelumnya, yakni 2023 MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus harus memulai mengajukan berkas sebagai calon sekolah adiwiyata kabupaten. Alhamdulillah setelah melalui verifikasi oleh Tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kudus, MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dinyatakan layak menerima SK bupati saat itu sebagai sekolah adiwiyata kabupaten kemudian dipersiapkan ketingkat provinsi.
“Alhamdulillah, satu-persatu apa yang dicita-citakan oleh para asatidz dan kami sebagai Tim Adiwiyata di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, dapat terwujud. Perjuangan menjadi sekolah adiwiyata kabupaten tidak semudah membalik kedua telapak tangan dan alhamdulilllah sekarang berhasil sampai provisi, ini semua berkat rahmat Allah dan ikhtiar teman teman khususnya panitia dan seluruh civitas akademika dengan penuh kesungguhan” tutur Ustaz Moch. Dwi Irsyad Saputra, M.Pd. selaku kepala madrasah saat diwawancari di Laboratorium Biologi.
“Kami tentu sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung demi terlaksananya sekolah adiwiyata sampai di tingkat provinsi ini. Kepada Dinas Lingkungan Hidup Kudus, SMA Mejobo Kudus, bank sampah Pager Bumi Menawan, Djarum Bhakti Lingkungan, dan seluruh pihak asatiz dan utamanya kader adiwiyata MTs, atas kerjasamanya yang baik kami bisa ikut serta menyelenggarakan program adiwiyata,” imbuhnya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak.

Ustaz Sukron Adzim selaku ketua tim adiwiyata menjelaskan bahwa MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus pada awalnya hanya memiliki program kebersihan dan keindahan kelas yang digawangi oleh green team. Green team memiliki programakan menilai tiap bulan dilanjut memberikan apresiasi untuk kategori kelas terbersih dan terindah. Program ini awalnya di luar rencana pengajuan sekolah adiwiyata kabupaten, karena memang saat itu MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus belum tercatat sebagai madrasah yang diajukan. Setahun setalah program berjalan barulah turun SK sebagai calon sekolah adiwiyata di tingkat kabupaten.
Informasi yang diterima dari Ustaz Dwi terkait proses awal, saat itu Dr. Yuniar Fahmi Lathif menunjuk Ustaz Yasa’ Ali Imron (waka sarpras) dan Ustaz Sukron Adzim untuk menghadiri undangan dari Dinas Lingkungan Hidup Kudus. Undangan tersebut diperuntukkan berbagai sekolah yang sudah tercatat berdasarkan SK sebagai calon sekolah adiwiyata kabupaten. Oleh karena itu untuk mewujudkan cita-cita sekolah adiwiyata, kepala sekolah Dr. Yuniar Fahmi Lathif membentuk tim adiwiyata kabupaten yang melibatkan waka kurikulum serta kesiswaan. Pada pertemuan awal bersama dengan tim yang telah terbentuk, berbagai ide cemerlang disampaikan. Salah satu ide yang tidak dapat dilupakan yaitu berkenaan dengan program inovasi tentang lingkungan dari Ustaz Dwi Irsyad Saputra.
“Kita harus banyak melakukan inovasi di madrasah ini untuk lingkungan, dengan harapan bisa menjadi nilai plus saat penilaian nantinya,” usul Ustaz Dwi selaku waka kurikulum saat rapat awal.
Gagasan inovasi dari Ustaz Dwi disambut hangat oleh semua anggota tim adiwiyata yang hadir, termasuk kepada sekolah saat itu Ustaz Yuniar Fahmi Lathif. Komitmen untuk menyelenggarakan adiwiyata dengan inovasi-inovasi serentak disepakati dengan gegap gempita. Untuk itu Inovasi yang akhirnya terealisasi untuk program adiwiyata di antaranya, ecobrick, ecoenzim, pembuatan sabun mandi, sabun pencucui perabotan, budidaya jamur, Mikroorganisme Lokal (MOL), dan magot. Inovasi tersebut setidaknya mampu mendorong program adiwiyata, selain program-program pokok seperti penghijauan, pengematan air, penghematan energi, dan pengelolaan sampah.
“Kami berharap semua inovasi yang ada harus senantiasa dilakukan dengan baik, dan harus ada evaluasi tentunya. Yang tidak kalah penting untuk dijalankan adalah program wajib yang berkenaan dengan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah,” tutur Ustaz Dwi saat dijumpai di Lab Biologi.
Setelah ditetapkan sebagai sekolah adiwiyata provinsi, MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus terus melakukan evaluasi untuk melaju di tingkat nasional. Tentu untuk sampai di tingkat nasional akan membutuhkan kerja ekstra serta kerja sama antarelemen yang solit. Keberhasilan sangat mustahil tercapai tanpa dibarengi ikhtiar itu semua. Hal itu senada dengan yang telah disampaikan Ustaz Dwi saat diwawancari setelah dinyatakan sebagai sekolah adiwiyata tingkat provinsi.
“Kerja sama yang solit antarelemen dalam penyelenggaraan sekolah adiwiyata ini sangat diperlukan. Saya sakin dengan kerja sama yang baik, MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus mampu mencapai sekolah adiwiyata nasional, bahkan mandiri,” ujar beliau saat diwawancarai di madrasah. (Adz)









