
Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di Masjid Yanbu’ul Qur’an, Selasa (6/10/2026). Para santri bersama-sama mengikuti sima’an Al-Qur’an dalam rangka Haul KH. M. Arwani Amin ke-33. Kegiatan dilanjutkan dengan mau’idhah hasanah dan do’a bersama. Bagi keluarga besar Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an, haul menjadi momentum untuk merawat ingatan dan meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan sang pendiri.
Ali Mustofa, M.Pd., selaku panitia, menjelaskan bahwa penyelenggaraan haul merupakan wujud syukur dan penghormatan atas jasa Mbah Arwani dalam merintis pondok serta mendedikasikan hidupnya untuk dakwah Al-Qur’an. Lebih dari mengenang sosok beliau, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para santri untuk menyambung sanad keilmuan sekaligus meneladani keteguhan dalam berkhidmah kepada Al-Qur’an.
“Nilai yang perlu terus ditanamkan kepada santri adalah istiqamah dalam melayani Al-Qur’an, menjaga adab, bersikap tawadhu’, serta menghormati guru dan ulama,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya hadir melalui nasihat, tetapi juga terasa dalam kebersamaan selama acara berlangsung. Bagi Ali Mustofa, momen paling berkesan adalah ketika seluruh santri melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an bersama. Suasana khusyuk itu seolah menghapus lelah, terlebih saat santri dan ustadz berdoa bersama dengan penuh kekhidmatan.

Pesan tentang kehidupan yang baik kemudian mengemuka dalam mau’idhah hasanah yang disampaikan Dr. KH. Ahmad Faiz, Lc., M.A. Dalam ceramahnya, beliau mengutip sebuah syi’ir tentang lima unsur kebahagiaan manusia:
سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ
صَلَاحُ جِيرَانِهِ وَالْبِرُّ فِي وَلَدِهِ
وَزَوْجَةٌ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا
خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ
Syi’ir tersebut menjelaskan bahwa kebahagiaan terletak pada lima hal: tetangga yang baik, anak yang berbakti, pasangan yang berakhlak mulia, sahabat yang setia, serta rezeki di negeri sendiri.
Pesan itu tidak berhenti sebagai bahan renungan. Seusai mau’idhah, panitia mengadakan kuis untuk menguji pemahaman santri. Muhammad Faith Firjatullah, santri kelas 11.1, berhasil menjawab pertanyaan dan memperoleh hadiah. Baginya, inti pesan yang paling membekas adalah pentingnya berbuat baik atau ihsan. Hubungan baik dengan orang lain, menurutnya, tidak mungkin tumbuh apabila seseorang justru berperilaku buruk.

“Nasihat itu membuat saya senang sekaligus lebih termotivasi untuk menyimak ceramah,” tuturnya.
Selain menanamkan akhlak, kegiatan haul juga memberi ruang bagi santri untuk mengasah keberanian dan kepercayaan diri. Hal itu dirasakan Raihan Azhim Alhafizh, santri kelas 11.1, yang baru saja lulus tes haflah setelah memperdengarkan hafalan 30 juz Al-Qur’an di hadapan Gus Faiz. Dalam acara haul kali ini, ia dipercaya memimpin doa.
Raihan mengaku sempat gugup karena untuk pertama kalinya ia memimpin doa yang diamini seluruh santri dan ustadz pondok. Namun, rasa gugup itu perlahan berganti menjadi kebahagiaan. Pengalaman tersebut memberinya keberanian untuk memimpin do’a dalam kegiatan-kegiatan berikutnya.
Pengalaman para santri itu menunjukkan bahwa warisan Mbah Arwani tidak hanya hidup dalam hafalan ayat, tetapi juga dalam akhlak, keberanian, kebersamaan, dan kesediaan untuk berkhidmah. Haul ke-33 menjadi pengingat bahwa meneruskan perjuangan ulama bukan semata-mata dengan mengenang nama mereka, melainkan dengan menghidupkan nilai-nilai yang mereka ajarkan dalam keseharian.









