Ahad (15/12/25) MTs Tahfidz Yannbu’ul Qur’an Kudus melaksanakan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dengan mengangkat tema “Berkomunikasi dengan Alam Semesta: Kajian dan Penerapan Ekoteologi bagi Santri.” Ada pun narasumber yang dihadirkan pada kesempatan itu adalah Prof. Dr. Ilya Muhsin, S.HI., M.Si. Sosok yang merupakan Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga itu merupakan wali santri kelas IX MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.
Kehadiran Prof. Illyana menjadi angin segar bagi civitas academica MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus mengingat materi yang disampaikan berhubungan dengan ekoteologi. Hal itu sangat relevan lantaran saat ini MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus berstatus sebagai sekolah adiwiyata provinsi. Bagi Ustaz Sukron Adzim selaku anggota panitia penyelenggara LDK sekaligus Ketua Tim Adiwiyata MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus memandang bahwa penguatan ekoteologi sangat penting diberikan kepada civitas academica MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, khususnya kepada santri.
“Penguatan ekoteologi sangatlah penting untuk seluruh civitas academica MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus. Hal ini sangat mendukung status madrasah ini sebagai sekolah adiwiyata provinsi. Agar terus konsisten dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka penguatan ekoteologi sangat diperlukan, khususnya santri yang masih terus membutuhkan pembiasaan dan pendampingan,” tuturnya saat ditemui di depan masjid.
Ustaz Noorhadi selaku kesiswan sekaligus ketua panitia pelaksana, mengonfirmasi kebenaran sebagaimana yang disampaikan Ustaz Sukron Adzim. Menurut beliau pemahaman ekoteologi sangatlah penting untuk diimplementasikan santri saat hidup di pondok. Menurutnya saat ini ekoteologi menjadi tema pembicaraan yang hangat karena menjadi prioritas Kemenag untuk mencetak santri yang tanggap terhadap lingkungan.
“Ya.. seperti yang disampaikan Ustaz Sukron, memang materi tentang ekoteologi sangatlah dibutuhkan. Maka untuk itu di kegiatan LDK ini kami menerima usulan Ustaz Sukron untuk penguatan ekoteologi kami sediakan space. Kami berharap santri dapat lebih peduli lingkungan sekitar. Tidak membuang sampah sembarangan sehingga mengakibatkan lingkungan tercemar,” tuturnya saat diwawancarai.
Meskipun hujan sempat mengguyur MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, namun materi penguatan ekoteologi berlangsung sangat khidmat. Prof. Illyana terlihat mengenakan baju batik dengan penuh semangat berada di tengah-tengah santri MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus yang berjumlah 724 santri. Terdengar gemuruh tepuk tangan memadati masjid saat Ustaz Budur Nazilil Rohman selaku moderator membacakan biodata Prof. Illyana yang ternyata berlatar belakang sebagai santri. Dalam kesempatan yang Istimewa itu, Prof. Illyana menjelaskan tentang dasar dalam ekoteologi yang harus dimiliki seorang santri.
“Dalam kajian ekoteologi, kita harus menyeimbangkan tiga komponan. Pertama adalah hablum minallah. Kedua hablum minannas, dan juga hablum minal ‘alam. Ketiga hal tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan,” ujar beliau saat menyampaikan materi.
Beliau menambahkan bahwa pentingnya keimanan sebagai dasar untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan sehingga tidak mengakibatkan bencana.
“Pemanfaatan sumber daya alam yang tidak dibarengi dengan spiritualitas, maka akan mengakibatkan kerusakan di mana-mana,” sambung beliau.
Berdasarkan uraian materi yang disampaikan Prof. Illyana, Ustaz Noorhadi berharap supaya santri selalu berhubungan dengan Allah SWAT yang diejawantahkan dalam kedisiplinan beribadah. Namun, menurut beliau hal itu juga perlu diseimbangkan melalui hubungan antarsesama dengan baik dan harmonis.
“Antarsantri sendaknya dapat menjalin komunikasi yang baik dan harmonis. Tidak hanya itu, sikap peduli terhadap lingkungan sekitar haruslah diperhatikan supaya tidak terjadi kerusakan lingkungan,” ujar Ustaz Noorhadi.
Penguatan ekoteologi yang disampaikan Prof. Illyana mendapatkan atensi serius oleh seluruh santri MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus hingga acara selesai pada pukul 12.15 WIB. Sebagian santri merasa terkagum mengingat mereka tidak selalu memiliki kesempatan mendapatkan materi dari Profesor.
“Saya merasa kagum karena pemateri kali ini seorang professor,” ujar Ataka santri kelas VIII-B MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.














