Malam itu, halaman depan Gedung Maroko dipenuhi wajah-wajah yang telah akrab dengan denyut kehidupan pesantren. Mereka datang bukan sekadar menghadiri rapat, melainkan menyambut amanah baru sebagai pendidik. Di hadapan mereka terbentang tahun pelajaran yang baru, lengkap dengan harapan, tantangan, dan ikhtiar yang harus kembali dirajut dari awal.
Momentum itulah yang mewarnai Rapat Awal Tahun Pelajaran 2026/2027 Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan. Rangkaian acara meliputi evaluasi akhir tahun, penghargaan ustadz berprestasi, pengundian doorprize perjalanan ke Tanah Suci, pembagian Surat Keputusan mengajar, hingga Walimatul Wakiroh di Gedung Maroko. Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan sekaligus menyatukan langkah menuju tahun pelajaran yang baru.

Dalam arahannya, Pimpinan Pondok, Dr. KH. Ahmad Faiz, Lc., M.A., mengajak seluruh dewan asatidz meluruskan kembali orientasi perjuangan. Menurutnya, berkhidmah di pondok semestinya dipandang sebagai jalan menuju ridha Allah, bukan sekadar memenuhi target duniawi.
“Menjadikan tujuan berkhidmah di pondok sebagai tujuan akhirat, bukan duniawi. Tujuan berjuang adalah pahala, bukan angka,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya membangun semangat yang terorganisasi. Mengutip ungkapan, al-haqqu bilā nizhām yaghlibuhul bāthilu bin-nizhām, beliau menegaskan bahwa kebenaran yang tidak dikelola dengan baik dapat dikalahkan oleh kebatilan yang tersusun rapi. Karena itu, keikhlasan harus berjalan seiring dengan profesionalisme.
Semangat tersebut diterjemahkan dalam arah kebijakan madrasah. Kepala MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, Moch. Dwi Irsyad Saputra, M.Pd., menjelaskan bahwa tahun pelajaran 2026/2027 difokuskan pada sinergi berbagai program, meliputi peningkatan prestasi, penguatan akhlak, kemandirian santri, serta pengembangan madrasah ramah anak.
Menurutnya, keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja sama seluruh unsur madrasah. Setiap guru memiliki peran penting sesuai amanah dan kapasitasnya sehingga budaya saling melengkapi perlu terus dipelihara.
Di tengah suasana yang penuh semangat itu, penghargaan kepada 57 ustadz berprestasi, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 291/PP-TYQM/YA/C/VI/2026, menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para pendidik selama Tahun Ajaran 2025/2026.
Salah seorang penerima penghargaan, Ahmad Alfiyan Rysdan Yasin, S.Pd., memandang penghargaan tersebut sebagai penyemangat untuk terus istiqamah.

“Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi pondok. Namun, semoga niat kita tetap akurat dan keistiqamahan kita tetap presisi dalam membimbing para santri,” ujarnya. Prinsip yang selalu ia pegang sederhana, tetapi kuat: kerja keras sampai batas.
Suasana berubah haru ketika pengundian doorprize perjalanan ke Tanah Suci mengumumkan nama Jumani, S.Pd. sebagai penerima hadiah utama. Ia mengaku tak mampu menyembunyikan rasa terkejut dan syukur.

“Saya sangat kaget, terharu, hingga berkaca-kaca. Rasanya seperti mimpi,” katanya. Kesempatan menjadi tamu Allah itu terasa semakin istimewa karena datang bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahannya. Dalam umrah nanti, ia berharap dapat mendoakan keluarga, para santri, dan seluruh keluarga besar PTYQM agar senantiasa diberi keberkahan.
Menjelang penutupan, pembagian Surat Keputusan mengajar menjadi penanda dimulainya amanah baru. Selembar SK bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol kepercayaan untuk mendidik generasi berikutnya.
Rapat awal tahun pun usai. Namun, yang sesungguhnya dimulai adalah tekad untuk terus berkhidmah. Sebab, kemajuan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program yang tersusun rapi, tetapi juga oleh orang-orang yang setiap hari memilih bekerja dengan ikhlas, menjaga niat, dan menanamkan ilmu sebagai amal yang terus mengalir.












