KUDUS — Gema sholawat dan untaian doa, mengiringi keberangkatan sembilan bus yang membawa ratusan santri meninggalkan halaman pondok pesantren.
Tas-tas telah tersusun rapi, wajah para peserta dipenuhi antusiasme. Namun, perjalanan yang mereka tempuh selama enam hari itu bukan sekadar wisata. Setiap kilometer yang dilalui menjadi bagian dari proses pembelajaran. Sementara setiap destinasi menyimpan pelajaran yang tak ditemukan di dalam ruang kelas.
Mengusung tema “Belajar dari Perjalanan, Bertumbuh dalam Pengalaman”, Rihlah 2026 berlangsung pada 22–27 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti 369 santri dari kelas VII, VIII, X, dan XI. Didampingi 36 guru dan panitia.

Ketua kegiatan, Muhammad Syaifuna, Lc., M.Ag., mengatakan rihlah merupakan media pembelajaran yang memadukan wisata edukasi, tadabbur alam, ziarah, dan pengenalan budaya Nusantara. Menurutnya, peserta diajak melihat langsung kebesaran Allah SWT melalui alam ciptaan-Nya. Sekaligus mengenal keberagaman budaya Indonesia.
“Melalui perjalanan ini, kami berharap peserta tidak hanya berekreasi, tetapi juga belajar menghargai sejarah, mencintai lingkungan, mengenal budaya bangsa, dan semakin bersyukur atas nikmat Allah SWT,” tuturnya.
Perjalanan dimulai pada hari pertama dengan menuju Situbondo, Jawa Timur.
Sebelum memasuki Pulau Bali, seluruh peserta berziarah ke makam KH As’ad Syamsul Arifin, salah satu ulama kharismatik Indonesia.
Di kompleks pemakaman tersebut, peserta diajak mendoakan para ulama, sekaligus mengenang perjuangan mereka dalam menyebarkan ajaran Islam.
Suasana hening menjadi pengingat bahwa ilmu dan perjuangan para pendahulu merupakan warisan yang harus diteruskan oleh generasi muda.
Memasuki hari kedua, rombongan menyeberang menuju Pulau Bali.
Destinasi pertama adalah Tanah Lot, ikon wisata yang berdiri megah di atas batu karang di tepi Samudra Hindia. Deburan ombak yang terus menghantam karang menghadirkan suasana reflektif.
Para peserta diajak melakukan tadabbur alam, menyaksikan keindahan ciptaan Allah, termasuk belajar mengenai kehidupan masyarakat Bali yang hidup berdampingan dengan alam dan budayanya. Perjalanan hari itu dilanjutkan ke Joger Bali. Selain menjadi pusat oleh-oleh, lokasi tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas dan inovasi, mampu menghadirkan nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada wisatawan. Relasi sosial dan ekonomi dapat dipelajari dari sini.
Pada hari ketiga, rombongan mengunjungi Desa Panglipuran, salah satu desa terbersih di dunia. Jalan-jalan yang tertata, rumah-rumah adat yang masih dipertahankan, serta lingkungan yang asri, menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga tradisi dan kelestarian alam secara bersamaan. Cinta kepada Allah SWT, cinta kepada alam dan cinta kepada manusia menjadi satu semangat setiap tarikan napas. Masih di hari yang sama, peserta menikmati kesejukan Air Terjun Blangsinga. Gemuruh air yang jatuh dari tebing tinggi menghadirkan suasana yang menenangkan. Di lokasi ini peserta diajak merenungkan kebesaran Allah melalui keindahan alam yang tetap lestari.
Setelah itu, rombongan singgah di Pusat Suvenir Cening Bagus, untuk mengenal produk-produk kerajinan lokal Bali sekaligus melihat bagaimana sektor ekonomi kreatif berkembang melalui pariwisata.
Memasuki hari keempat, perjalanan berlanjut menuju Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Destinasi utama adalah Gili Trawangan, pulau kecil dengan air laut yang jernih dan panorama bawah laut yang terkenal hingga mancanegara.
Keindahan laut, pasir putih, dan ekosistem pesisir menjadi media pembelajaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta potensi besar wisata bahari Indonesia.
Rombongan kemudian mengunjungi Lombok Exotic, kawasan wisata yang memperkenalkan beragam kekayaan alam dan budaya Pulau Lombok.
Di sana peserta memperoleh pengalaman baru mengenai potensi daerah yang mampu berkembang melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Pada hari kelima, peserta diajak mengenal budaya masyarakat Sasak melalui kunjungan ke Desa Adat Sade.
Rumah-rumah tradisional, adat istiadat yang masih lestari, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi pelajaran tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Kuta Mandalika. Hamparan pasir putih, birunya laut, dan bukit-bukit yang mengelilingi kawasan tersebut menghadirkan panorama yang memukau.
Di tempat ini peserta kembali diajak melakukan tadabbur alam, menyadari bahwa keindahan Indonesia merupakan amanah yang harus dijaga bersama.
Sebelum meninggalkan Lombok, rombongan mengunjungi Sirkuit Mandalika. Dari lokasi tersebut peserta melihat bagaimana kawasan wisata dapat berkembang menjadi pusat olahraga otomotif kelas dunia. Kehadiran sirkuit internasional itu memperlihatkan bahwa potensi daerah dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi tanpa menghilangkan daya tarik alamnya.
Pada hari keenam, seluruh rombongan memulai perjalanan kembali menuju Jepara. Meski perjalanan pulang cukup panjang, suasana di dalam bus dipenuhi cerita, tawa, dan pengalaman yang saling dibagikan antarpeserta.
Bukan hanya oleh-oleh yang mereka bawa pulang, tetapi juga pelajaran hidup dari setiap tempat yang telah mereka kunjungi.
Muhammad Syaifuna, Lc., M.Ag., berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bekal bagi para peserta dalam menempuh pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, pengalaman belajar secara langsung akan lebih membekas dibandingkan sekadar membaca teori di buku.
“Semoga setiap peserta pulang membawa semangat baru untuk terus belajar, semakin bersyukur atas nikmat Allah SWT, mencintai alam, menghargai keberagaman budaya Indonesia, dan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, serta memiliki wawasan yang luas,” pesannya.
Rihlah 2026 membuktikan bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah tempat.
Di balik setiap jalan yang dilalui, setiap ombak yang dipandang, setiap gunung yang terlihat, dan setiap budaya yang dikenali, selalu ada pelajaran yang membentuk karakter. Sebab, terkadang ruang belajar terbaik memang berada di hamparan alam yang luas, tempat manusia diajak mengenal dunia sekaligus semakin dekat dengan Sang Pencipta.













