Praktik budidaya anggrek untuk siswa kelas tujuh MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus di tahun pelajaran 2026 berlangsung dengan penuh mengesankan. Aanak-anak tampak sangat antusias mengikuti praktik yang berlangsung di greenhouse madrasah. Selain tempatnya yang representatif, pembelajaran di greenhouse membuat santri memiliki kesan positif. Lantaran itulah praktik anggrek diyakini menjadi salah satu agenda yang penting dalam pembelajaran kokurikuler tiap tahun sehingga dapat memupuk jiwa kewirausahaan santri melalui pengoptimalan fungsi greenhouse.
“Pembelajaran di greenhouse sangat menyenangkan. Berbeda dengan di kelas. Rasanya di sini lebih seger dan bersemangat, tidak ngantuk”, tutur santri.
Selama ini, keberadaan greenhouse di madrasah telah menjadi sarana untuk pengembangan riset dan praktikum. Oleh sebab itu menurut Ustaz Achlis Fikri Jauhari selaku wakil kepala madrasah bidang kurikulum bahwa pelaksanaan kokurikuler yang dulu dikenal P5 RA, sangat tepat jika dilaksanakan di greenhouse.
“Pelaksanaan kokurikuler untuk tahun 2026 ini, kami memaksimalkan fungsi greenhouse sebagai tempat pembelajaran khususnya budidaya anggrek. Ini sudah tahun ke lima praktik anggrek berlangsung di greenhouse. Dan alhamdulillah hasilnya sangat efektif serta anak-anak antusias”, ujar Ustaz Achlis.
Di samping dapat mengoptimalkan fungsi greenhouse, menurut Ustaz Moch. Dwi Irsyad Saputra selaku kepala madrasah, praktik budidaya anggrek dinilai dapat menunjang pengalaman anak secara kontekstual. Melalui praktik budidaya anggrek diharapkan anak-anak mampu mengimplementasikan materi pembelajaran yang didapatkan di kelas. Tidak hanya itu, menurutnya dengan adanya praktik anggrek di greenhouse tersebut maka dapat menjadi inspirasi dan motivasi anak .
“Murid bisa mendapat pengalaman baru selain pengetahuan yang kontekstual dan sesuai dengan pelajaran yang diajarkan. Selain itu dapat memberi inspirasi dan motivasi”, ujar Ustaz Dwi saat diwawancarai.
Untuk saat ini, budidaya anggrek masih menjadi prioritas dalam pelaksaaan praktik kokurikuler maupun riset. Kendati demikian, Ustaz Dwi menerangkan bahwa tidak menutup kemungkinan pelaksanaan praktik akan dikolaborasikan dengan bentuk lainnya seperti hidroponik, magot, jamur tiram, dan lainya. Hal tersebut menunjukkan adanya upaya yang secara terbuka agar madrasah dapat memenuhi hak belajar anak sehingga berkembang dengan wawasan yang luas.
Melalui pembelajaran kokurikuler budidaya anggrek, siswa MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus diharapkan tidak sekadar cakap dalam kemampuan kognitif saja, melainkan siswa didorong dapat mengimplementsikan pengetahuan kognitif berupa praktik di lapangan. Melalui cara inilah, pembelajaran yang berlangsung dirasa akan selaras dengan keinginan pemerintah tentang pembelajaran mendalam (deep learning). Selian itu, juga menjadi wujud implementasi pembelajaran berbasis cinta atau yang dikenal Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang telah dicanangkan Kemenag untuk madrasah.
Sejalan dengan hal itu, Ustaz Dwi menandaskan bahwa pembelajaran di greenhouse akan memupuk khazanah pengetahuan siswa secara nyata. Siswa tentu dapat memanfaatkan pengalaman parktiknya yang dinilai berkesan untuk bekal masa depan. Suatu saat diharapkan siswa dapat berwirausaha sebagaimana yang telah di ajarkan atau dengan berinovasi sendiri melalui pengalaman praktik tersebut.
“Siswa juga dapat mendapatkan Khazanah pengalaman di greenhouse, budidaya anggrek khususnya untuk bekal masa depan, meskipun bisa saja dudidaya yang lain sesuai kreativitas anak. Kenangan dan pengalaman berharga itu yang kita sampaikan ke siswa”, tutur Ustaz Dwi.
Ustaz Atfi Norlaili di damping ustaz yang lain, tampak bersemangat memulai praktik di hari pertama (Ahad, 23/08). Dengan mengenakan kaos kokurikuler berwarna merah, Ustaz yang juga ahli di bidang robotik itu mengajak siswa memulai praktik dengan membaca selawat sains. Sudah menjadi tradisi dalam pelaksanaan kokurikuler selawat sains selalu dilantunkan, khusus pada tema praktik yang dilakukan. Menurut Ustaz Atfi ini menjadi warisan luhur pembelajaran STEM-R yang digagas oleh Ustaz Yuniar Fahmi Lathif. Menurutnya hal itu sesuai dengan kultur madrasah yang bersistem asrama (pondok).
“Memang, sholawat sains ini sangat penting untuk diterapkan ke siswa. insyaAllah akan mendatangkan berkah. Di samping itu, sholawat sains ini menjadi peninggalan Ustaz Yuniar. Yaa dengan pendekatan STEM-R, insyaAllah anak-anak akan menjadi pribadi religius”, ungkap Ustaz Atfi.
Dalam kurun waktu kurang lebih setahun, biasanya anggrek yang ditanam siswa sudah mulai membesar meskipun belum semuanya berbunga. Kendati demikian, sebagai puncak pembelajaran yang panajang madrasah biasanya menyelenggarakan gelar karya di akhir tahun. Siswa-siswa mempersembahkan hasil budidaya anggrek tersebut untuk orang tuanya masing-masing dan dibawa pulang. Hal itu terkonfirmasi dari penjelasannya kepala madrasah Ustaz Dwi, bahwa anggrek yang telah ditanam kembali untuk santri.
“Anggrek yang ditanam akan dibagikan kepada santri. Jadi secara praktiknya siswa budidaya anggrek anggreknya sendiri yang nanti menjadi miliknya sendiri”, ujar Ustaz Dwi.
Di akhir penjelasannya, Ustaz Dwi menyampaikan bahwa setiap tahun terus diadakan evaluasi terkait pelaksanakaan praktik budidaya anggrek. Beliau menyampaikan bahwa dengan adanya evaluasi yang secara periodik, dapat menjadikan praktik lebih baik dari sebelumnya.
“Setiap tahun kita adakan evaluasi. Salah satunya terkait waktu, jenis anggrek, tempat penataan, dan sebagainya. Semoga evaluasi periodik tersebut bisa bermanfaat untuk praktik yang lebih baik”, imbunya.











