Kudus – Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus menyelenggarakan peringatan Haul ke-32 Almarhum wal Maghfurlah KH. M. Arwani Amin Said pada hari Kamis malam, 16 Oktober 2025. Acara yang dimulai tepat pukul 18.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat. Segenap Ustadz dan seluruh santri dengan penuh takzim menghadiri majelis dzikir dan doa tersebut. Peringatan kegiatan tersebut menegaskan kembali komitmen Pondok dalam menjaga sanad keilmuan Al-Qur’an. Kehadiran para hadirin mencerminkan kecintaan yang mendalam terhadap sosok ulama besar yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Yanbu’ul Qur’an. tersebut.
Rangkaian acara dibuka oleh Ustadz Muhammad Syafii, dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Qori Ustadz Fauzul Hakim. Prosesi tawasul dan tahlil dilaksanakan secara bergantian oleh Ustadz Muhammad Fathur Rozaq dan Ustadz Zainul Arifin. Seluruh rangkaian dzikir ini menjadi sarana bagi hadirin untuk mengirimkan doa untuk Mbah Arwani, para guru, para keluarga, dan seluruh kaum Muslimin yang telah berpulang.

Mauidhoh Hasanah dalam peringatan haul ini disampaikan oleh Pimpinan Pondok, Dr. H. Ahmad Faiz, Lc., MA, dilanjutkan dengan doa penutup. Dalam ceramahnya, Gus Faiz menyampaikan pesan sentral mengenai esensi dari keberadaan seorang hafiz quran. Beliau menegaskan bahwa nilai seorang santri tidak hanya diukur dari kuantitas hafalan, melainkan pada kualitas pengamalan, kesungguhan menjaga adab, serta komitmen menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Santri dituntut tidak hanya mahir membaca dan menghafal, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh yang menuntun akhlak, perilaku sosial, dan keterlibatan mereka dalam masyarakat
Beliau juga menitipkan pesan berharga kepada santri yang berbunyi sing tekun bakal tekan. Hal ini mengajarkan bahwa ketekunan adalah kunci keberhasilan. Tidak peduli seberapa berat perjalanan, orang yang terus berusaha dengan konsisten pada akhirnya akan mencapai apa yang diimpikannya. Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi sebuah perjalanan ruhani yang panjang, penuh ujian, dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Dalam konteks ini, ketekunan bukan lagi sekadar sikap positif, melainkan fondasi utama yang menentukan keberhasilan seorang santri. Mereka yang terus berpegang pada jadwal setoran, disiplin dalam muraja’ah, menjaga adab kepada guru, serta memurnikan niat semata-mata karena Allah, pada akhirnya akan merasakan buah manis dari jerih payah tersebut . Lebih dalam lagi, ungkapan ini mengajarkan bahwa perjalanan menghafal Al-Qur’an sejatinya bukan hanya tentang mengumpulkan ayat dalam ingatan, tetapi membentuk keteguhan hati, istiqamah, dan ketabahan jiwa. Santri yang tekun akan mampu melewati rasa jenuh, kelelahan, bahkan keraguan yang kadang muncul. Sebaliknya, mereka yang mudah putus asa akan tertinggal di tengah jalan, meski mungkin awalnya lebih cepat dalam menghafal.
Beliau juga mengajak hadirin meneladani akhlak, keteladanan, dan keistiqamahan Mbah Arwani yang telah melahirkan ribuan hāfiẓ dan muḥaqqiq dalam qira’ah. Warisan beliau tidak hanya berupa metode Yanbu’a, kitab Faidhul Barokat, atau sistem pendidikan Qur’ani yang terstruktur, tetapi juga semangat besar untuk merawat Al-Qur’an secara komprehensif baik bacaan, hafalan, pemahaman, maupun pengamalannya.



Dengan demikian, peringatan Haul ini diharapkan menjadi kegiatan meningkatkan ruh spiritual bagi para santri, khidmat dan asatidz untuk menjadi generasi penerus yang mutqin dalam hafalan dan kamil dalam amal. Semoga santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan menjadi generasi Qur’ani yang kelak mengisi poros-poros penting dalam berbagai bidang kehidupan baik pendidikan, kesehatan, pemerintahan, pelayanan masyarakat, hingga peradaban Islam di masa mendatang. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Gus Faiz, memohon keberkahan dan keberlanjutan tradisi keilmuan di Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan.










